RSS

Tuesday, June 28, 2011

BANYAK YANG HILANG DARI KITA




“ Mahu tak kita buat yahoogroup lagi?”

Sayalah orang yang paling tidak gemar dengan cadangan itu. Jika ada teman yang membuka inbox emel saya, sekarang ini saya ada 10002 unread emel gara-gara banyak sekali yahoogroup yang wajib saya sertai. Pernah suatu ketika, akhwat yang baik hati menawarkan dirinya untuk buatkan folder setiap satunya. Ah, saya jika kalian mahu tahu, tidak mahu tahu langsung hal ehwal mengemas kini emel. Jika diajar berkali-kali saya pura-pura beri perhatian tanda sungguh berterima kasih. Tetapi acap kali saya sengaja lupakan apa yang diajar dan inbox saya akan terus dibanjiri pelbagai emel penting.

Kawan, jika ada lagi jenis kerja yang boleh dijadikan kerjaya, maka saya tanpa ragu-ragu mahu mencadangkan, kerjaya membaca emel adalah satu kerjaya paling sibuk waktu ini. Dengan syarat, ada emel yang penting untuk dijawab dan direspon. Bayangkan kawan, ada cadangan yang perlu dibalas, ada soalan yang perlu dijawab, ada luahan yang perlu dimanjai, ada arahan yang perlu tindakan.. paling PENTING ada TAUJIH yang perlu dibaca baris per baris. Tidak boleh tertinggal satu huruf. Dalam hal ini kawan, ada satu yahoogroup yang saya utamakan senarainya sebagai tangga teratas untuk saya ambil peduli dahulu.

Tambahan,
Taujih ini bukan sekadar dibaca, kerja seterusnya adalah click copy untuk paste di sini. Bukan main sibuk rupanya kerjaya membaca emel ini kawan. Maka, satu emel ini berupa taujih bagai tujuh lapisan langit yang benar-benar menghempap diri saya. Tanpa belas penulis ini menerobos ruang hati dengan halilintar yang sabung menyabung.
Ayuh baca kawan, jangan sampai tertinggal satu huruf. Janji itu!

*************************************


Banyak yang Hilang dari Diri Kita


"Kata-kata itu, bisa mati," tulis Sayyid Qutb. "Kata-kata juga akan menjadi beku, meskipun ditulis dengan lirik yang indah atau semangat. Kata-kata akan menjadi seperti itu bila tidak muncul dari hati orang yang kuat meyakini apa yang dikatakannya. Dan seseorang mustahil memiliki keyakinan kuat terhadap apa yang dikatakannya, kecuali jika ia menerjemahkan apa yang ia katakan dalam dirinya sendiri, lalu menjadi visualisasi nyata apa yang ia katakan," lanjut Sayyid Qutb dalam karya monumentalnya Fii Zilaalil Qur'aan.


Saudaraku,

Menjadi penerjemah apa yang dikatakan. Menjadi bukti nyata apa yang diucapkan. Betapa sulitnya. Tapi ini bukan sekedar anjuran. Bukan hanya agar suatu ucapan menjadi berbobot nilai pengaruhnya karena tanpa dipraktikkan, kata-kata menjadi kering, lemah, ringan tak berbobot, seperti yang disinyalir oleh Syayyid Qutb rahimahullah tadi. Lebih dari itu semua, merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah SWT yang tegas menyindir soal ini ada pada surat Al-Baqarah ayat 44 yang artinya, "Apakah kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaktian, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri dan kalian membaca Al-Kitab. Apakah kalian tidak berakal?"


Membandingkan antara kita hari ini dan masa-masa lalu, akan terasa bahwa ada banyak hal yang hilang dari diri kita. Kita dahulu, yang mungkin baru memiliki ilmu dan pemahaman yang sedikit, tapi banyak beramal dan mempraktikkan ilmu yang sedikit itu. Kita dahulu, yang barangkali belum banyak membaca dan mendapatkan keterangan tentang Allah, tentang Rasulullah SAW, tentang Islam, tapi terasa begitu kuat keyakinan dan banyak amal shalih yang dikerjakan. Kita dahulu, yang belum banyak mendengarkan nasihat, diskusi, arahan para guru dalam menjalankan agama, tapi seperti merasakan kedamaian karena kita melakukan apa yang kita ketahui itu. Meskipun sedikit.



Saudaraku,
Banyak yang hilang dari diri kita…



Saudaraku,
Dahulu, sahabat Ali radhiallahu anhu pernah mengatakan bahwa kelak di akhir zaman akan terjadi sebuah fitnah. Antara lain, ia menyebutkan, "…Ketika seseorang mempelajari ilmu agama bukan untuk diamalkan," itulah ciri fitnah besar yang akan terjadi di akhir zaman.Sahabat lainnya, Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu juga pernah menyinggung hal ini dalam perkataannya, "Belajarlah kalian, dan bila kalian sudah mendapatkan ilmu, maka laksanakanlah ilmu itu." Ilmu dan amal, dua sisi mata uang yang tak mungkin dipisahkan. Tapi kita, sepertinya, kini lebih berilmu namun miskin dalam amal…



Saudaraku,
Perhatikanlah, apa saja yang hilang dari diri kita selama ini…?
Barangkali kita termasuk dalam ungkapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah ini. Ia mengatakan,"Aku pernah bertemu dengan suatu kaum yang mereka dahulunya adalah orang-orang yang memerintahkan yang makruf dan paling melaksanakan apa yang diserukannya. Mereka juga orang yang paling melarang kemungkaran dan mereka sekaligus orang yang paling menjauhi kemungkaran itu. Tapi kini kita ada di tengah kaum yang memerintahkan pada yang makruf sementara mereka adalah orang yang paling jauh dari yang diserukan. Dan paling banyak melarang kemungkaran, sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat melaksanakan kemungkaran itu. Bagaimana kita bisa hidup dengan orang yang seperti mereka?"



Saudaraku,
Berhentilah sejenak di sini. Duduk dan merenungkan untuk memikirkan apa yang kita bicarakan ini. Perhatikanlah apa yang dikatakan lebih lanjut oleh Sayyid Qutb rahimahullah, "Sesungguhnya iman yang benar adalah ketika ia kokoh di dalam hati dan terlihat bekasnya dalam perilaku. Islam adalah akidah yang bergerak dinamis dan tidak membawa yang negatif. Akidah Islam itu ada dalam alam perasaan dan bergerak hidup mewujudkan indikasinya dalam sikap luar, terterjemah dalam gerak di alam realitas."



Saudaraku,
Jika banyak yang baik-baik, yang hilang dari diri kita, mari memuhasabahi diri sebelum beramal, melihat apa yang menjadi orientasi dan tujuan amal-amal kita selama ini. Jika kita memeriksa niat sebelum beramal, berarti kita sudah membenahi sesuatu yang masih bersifat lintasan hati. Dan itu akan lebih mudah melakukannya. Karena asal muasal suatu pekerjaan itu adalah lintasan. Lintasan hati, dan keinginan hati itu bisa menjadi kiat sampai kemudian menjadi waswas. Dari waswas muncul dorongan untuk dilahirkan dalam bentuk tindakan. Imam Ghazali mengatakan, "Jalan untuk membersihkan jiwa adalah dengan membiasakan pekerjaan yang muncul dari jiwa yang bersih secara sempurna."



Saudaraku,
Jika kita bicara, maka kita sebenarnya diajak bicara oleh diri kita sendiri melalui kata-kata itu. Kata-kata yang kita keluarkan, sebenarnya pertama kali ditujukan pada diri sendiri, sebelum orang lain. Jika kita mendapatkan ilmu, kitalah orang pertama yang harus melakukannya. Dengan perenungan lebih jauh, sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan sikap zuhudnya, Abu Dardaradhiallahu anhu mengatakan, "Aku paling takut kepada Rabbku di hari kiamat bila Dia memanggilku di depan seluruh makhluk dan mengatakan, "Ya Uwaimar." Aku menjawab, "Ya Rabbku…" Lalu Allah mengatakan, "Apakah engkau mengerjakan apa yang sudah engkau ketahui?" Seorang ulama, Syaikh Jibrin yang baru saja wafat meningalkan tulisan begitu menyentuh tentang ini. Ia mengutip sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT berfirman, "Idzaa ashanii man ya'rifunii, salath tu alaihi man laa ya'rifunii…" Jika orang yang mengenal-Ku melakukan maksiat kepada-Ku, Aku kuasakan dia kepada orang yang tidak mengenal-Ku…"



Saudaraku,
Banyak hal baik yang telah hilang dari diri kita.



2 comments:

Hamba Tuhan said...

Perlu muhasahabah diri setiap waktu untuk mencari apa yang hilang dan mengenal pasti apa tujuan hidup kita.

nice sharing k.izzah

baldwinlagattuta said...

Casino - Dr. Dr.Mcd
It's the best place to play poker. From the 김포 출장샵 comfort of 사천 출장마사지 your home with our 시흥 출장안마 24/7 poker rooms and a thrilling casino-resort, 충청북도 출장마사지 this place is 정읍 출장안마 a must

Post a Comment